Passion vs Money

Ada waktunya dimana kaum millennials mempertanyakan keinginannya untuk bekerja di hari setelah mereka lulus dari studi nya, “what kind of job suits me?”, “what will I be doing for the next 5 years?”, “which path should I follow?” dan rentetan pertanyaan lainnya yang sebenarnya hanya perlu dijawab dengan satu kalimat sederhana. Tapi untuk kami, di umur 20an sekarang ini, dimana sedang mengalami yang mereka sebut sebagai a quarter life crisis, semua terasa seperti beban. Apalagi ketika disuruh memilih, bekerja karena passion atau bekerja karena uang.

 

Tiap individu pasti memiliki keinginan untuk bekerja di bidang yang mereka idamkan. Ketika di universitas, mata saya baru terbuka lebar bahwa tidak semua orang ingin bekerja di gedung mewah, bersepatu hak tinggi, memakai jas dan menunggu rush hour di café-café sambil membahas pekerjaan untuk hari besok. Ada dari mereka yang memang ingin bekerja sesuai panggilan hatinya, entah mengabdi untuk masyarakat dengan bergabung dengan organisasi sosial, atau mereka yang ingin bekerja sebagai pegawai pemerintah, atau mereka yang ingin bekerja di industri kreatif, lain lagi ada yang ingin membangun bisnis sendiri, ada yang memang bekerja sesuai dengan latar belakang kuliahnya, sampai yang ingin menjadi blogger atau vlogger supaya dapat priviledge dan akses ke dunia showbiz di Indonesia. Semua itu ada.

 

Kalau dilihat dari ragamnya profesi yang ada sekarang ini, dan ketika berbicara tentang besarnya potensi income juga pasti akan berbeda. But hey, it’s not always about money, my friends told me bluntly. Satu teman saya bekerja untuk salah satu NGO yang berlokasi di Bali, bergerak di bidang people development dan bertujuan untuk memberikan knowledge untuk warga Indonesia. He said to me virtually through line chat, “My job, well financially, I do struggle. I have no big salary compared to my friends. But I help people and it makes me really happy. I just love it. I know this job is for me.”

A happy job makes a happy soul, konklusi terakhir yang sanggup saya rangkum dari percakapan tersebut. Mungkin ini yang disebut bekerja karena panggilan jiwa. Bekerja karena passion yang terkubur di masa sekolah sekarang bisa direalisasikan, dengan bonus dibayar pula. But again I believe, everything will follow. As long as we work harder than anyone else. Tapi di lain cerita, another friend of mine told me about her current life. “I have great salary, I can go shopping, which is the only thing I like, but I freaking hate the job and it kills my brain.” And for this, ‘money can’t buy happiness’ tagline is really happening. So now, what? Ketika uang sudah ada tapi tidak sesuai passion juga ternyata tidak berujung menyenangkan. Malah rasanya waktu terbuang percuma dan menguras tenaga saja. Lalu di sinilah perang batin antara passion vs money dimulai yang kemudian mengganggu akal dan pikiran.

 

Lalu apa yang harus dilakukan? Saya tidak mau terkesan menggurui, karena untuk menemukan passion saya pribadi juga membutuhkan waktu yang cukup lama. Just start to think, kamu orang yang career or money oriented? Karena orang sering salah mengartikan, tidak semua karir memiliki bayaran yang tinggi, dan tidak semua bayaran tinggi menjanjikan kamu karir yang cemerlang. Having a title, yes, but career? I think it’s more than that. From my perspective, memiliki karir adalah ketika saya memiliki pekerjaan yang sangat saya suka and I make the best of it, I’m willing to spend 24 hours just to finish the work karena saya melakukannya sepenuh hati. Because my heart and my mind say so. Kalaupun pekerjaan yang saya sukai kelak memiliki pendapatan yang tinggi, that’s just a bonus.

 

But again, I can’t put you in my shoes. At the end of the day, semuanya kembali kepada pribadi masing-masing. Memang ada dari segelintir orang yang merasa tidak punya passion dan satu-satunya pilihan adalah bekerja karena butuh uang. Tapi untuk mereka yang merasa memiliki kemampuan dan cita-cita yang dulu dianggapnya angan-angan belaka, this is the time to make it real. This is the call. Tidak ada pekerjaan yang sempurna, kalaupun ada persentasenya hanya 1% dari 1000%. Jadi jawaban sederhana untuk pertanyaan di awal tadi hanya perlu dijawab dengan, “Just try, while you’re young.” That’s it.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *